Kembali ke Daftar Artikel
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025 menjadi momentum penting bagi keluarga besar SMPIQu Al-Bahjah Al-Maunah untuk memperkuat kolaborasi. Pendidikan karakter tidak bisa berdiri sendiri; ia membutuhkan keselarasan antara bimbingan guru di sekolah dan kasih sayang orang tua di rumah.
Menghidupkan Semboyan Pendidikan
Filosofi "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" merupakan panduan bagi kita semua yang berperan sebagai pendidik:
Di Depan Memberikan Contoh: Guru dan orang tua adalah model utama bagi anak. Kedisiplinan dan kesantunan yang kita tunjukkan akan ditiru secara langsung oleh mereka.
Di Tengah Membangun Semangat: Kita hadir sebagai kawan bicara yang merangkul dan membangkitkan motivasi saat anak merasa lelah dalam proses belajar.
Di Belakang Memberikan Dorongan: Memberikan dukungan penuh serta kepercayaan agar anak mampu mandiri dan berani menghadapi tantangan.
Pendidikan Berlandaskan Kasih Sayang
Sesuai dengan pesan Buya Yahya, filosofi pendidikan ini akan mencapai puncaknya jika dijalankan dengan rasa kasih sayang (Man Laa Yarham Laa Yurham). Beliau menekankan bahwa pendidikan yang didominasi bentakan dan kekerasan hanya akan melahirkan pribadi yang keras.
Sebaliknya, ketika orang tua memberikan kelembutan di rumah dan guru memberikan perhatian yang tulus di sekolah, anak akan merasa aman dan dihargai. Sentuhan kasih sayang dari kedua pihak inilah yang mengikat hati anak, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang hormat, lembut tutur katanya, dan mulia perilakunya.
Di Hardiknas 2025 ini, mari kita berkomitmen untuk menjauhkan kekerasan dalam mendidik. Dengan sinergi antara teladan guru dan kasih sayang orang tua, kita wujudkan generasi Rabbani yang unggul dari SMPIQu Al-Bahjah Al-Maunah.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2024!
Mendidik dengan Hati, Membentuk Karakter dengan Kelembutan.
Hardiknas 2025: Sinergi Orang Tua dan Guru dalam Meneladani Filosofi Ki Hajar Dewantara
Menghidupkan Semboyan Pendidikan
Filosofi "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" merupakan panduan bagi kita semua yang berperan sebagai pendidik:
Di Depan Memberikan Contoh: Guru dan orang tua adalah model utama bagi anak. Kedisiplinan dan kesantunan yang kita tunjukkan akan ditiru secara langsung oleh mereka.
Di Tengah Membangun Semangat: Kita hadir sebagai kawan bicara yang merangkul dan membangkitkan motivasi saat anak merasa lelah dalam proses belajar.
Di Belakang Memberikan Dorongan: Memberikan dukungan penuh serta kepercayaan agar anak mampu mandiri dan berani menghadapi tantangan.
Pendidikan Berlandaskan Kasih Sayang
Sesuai dengan pesan Buya Yahya, filosofi pendidikan ini akan mencapai puncaknya jika dijalankan dengan rasa kasih sayang (Man Laa Yarham Laa Yurham). Beliau menekankan bahwa pendidikan yang didominasi bentakan dan kekerasan hanya akan melahirkan pribadi yang keras.
Sebaliknya, ketika orang tua memberikan kelembutan di rumah dan guru memberikan perhatian yang tulus di sekolah, anak akan merasa aman dan dihargai. Sentuhan kasih sayang dari kedua pihak inilah yang mengikat hati anak, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang hormat, lembut tutur katanya, dan mulia perilakunya.
Di Hardiknas 2025 ini, mari kita berkomitmen untuk menjauhkan kekerasan dalam mendidik. Dengan sinergi antara teladan guru dan kasih sayang orang tua, kita wujudkan generasi Rabbani yang unggul dari SMPIQu Al-Bahjah Al-Maunah.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2024!
Mendidik dengan Hati, Membentuk Karakter dengan Kelembutan.
Tertarik untuk Mendaftarkan Putri Anda di SMPIQu Al-Bahjah Al-Maunah?
Mari bergabung menjadi bagian dari generasi Qur'ani yang berakhlak mulia, berilmu, dan berprestasi.
Daftar Santri Baru Online